Banyak yang bertanya tentang sepeda saya ini, yang sebenarnya sudah saya pakai lalu lalang di jalanan kota Denpasar sejak beberapa bulan yang lalu tapi baru disadari keberadaannya oleh rekan-rekan B2W pada waktu saya bawa ke Bajra Sandhi beberapa waktu yang lalu.

Ini adalah Kona Ute 2009. Ada yang menyebut longtail bike, ada juga yang menyebut cargo bike. Sepeda ini saya beli fullbike di Jayakarta, upgrade yang saya lakukan hanyalah mengganti rem belakang menjadi Shimano (tipenya lupa, yang jelas v-brake), menambah footstep untuk injakan kaki bagi penumpang belakang, mengganti standar aslinya yang standar tengah menjadi standar samping bekas Polygon Cruiser. Selain itu tidak ada yang diubah.
Saya memang dari dulu ingin punya cargo bike. Biar bisa bawa barang banyak tanpa harus gendong ransel. Biar bisa bonceng kedua anak sekaligus tanpa harus berdesak-desakan di job belakang. Biar bisa mengistirahatkan mobil sebanyak mungkin, mengerjakan apa yang harus dikerjakan sambil sekaligus berolahraga. Biar bisa menyalurkan hasrat bersepeda tapi nggak bingung mau parkir sepeda di mana dan bagaimana (kalau bawa Banshee Rune ke mana-mana, susah parkirnya. Nggak ada jongkrak, ngeri kalau “diangkat” orang. Polygon Xtrada sudah “diikat” sama sepeda gandengnya co-pilot).
Tadinya saya naksir mau membangun Xtracycle . Kebetulan di rumah ada sepeda gunung lama yang mungkin bisa dimodifikasi jadi Xtracycle ini. Tapi dealer-nya nggak ada di Indonesia. Yang terdekat di Singapore. Dan harganya juga tidak murah. Cari-cari cargo bike yang lain, tidak ada satu pun yang dijual di Indonesia. Padahal cargo bike ada banyak jenis. Coba lihat di sini:
Menjelang akhir tahun lalu, saya mampir ke Rodalink. Ada katalog Kona 2009. Dan di cover depannya adalah foto Ute 2009. Lalu saya tanya, karena Rodalink adalah delaer resmi Kona untuk Indonesia, apakah saya bisa pesan Ute 2009. Yang jaga toko bilang, mereka akan tanya ke Jakarta. Beberapa hari kemudian saya ke situ lagi, tanya mengenai pesanan saya, jawabannya masih sama.
Akhirnya saya posting di sepedaku.com, bahwa saya cari Kona Ute 2009, fullbike. Direspon oleh Pak Made Jayakarta, bahwa dia bisa mencarikan. Sempat ditawarin yang 2008, tapi dengan selisih harga yang tidak begitu banyak, saya merasa lebih sreg dengan yang 2009. Lebih suka warnanya (yang 2008 warna hijau, yang 2009 warna cokelat orange), lebih suka dengan tas-nya (yang 2008 tasnya kecil, yang 2009 besar, dan warna tas yang orange jreng lebih match dengan warna frame 2009 yang cokelat orange). Setelah saling jawab di forum, ngobrol via telpon, main ke tokonya, akhirnya awal tahun ini Kona Ute 2009 pesanan saya datang di Denpasar.
Sepeda ini frame size-nya 18″. Secara teori, frame ini terlalu besar untuk saya, tetapi karena posisi duduknya tegak, dan dengan model handlebar yang melengkung seperti itu, maka terasa pas untuk tinggi badan saya yang sekitar 165 cm-an. Ukuran sepeda yang panjang tidak mempengaruhi handling, terasa nyaman-nyaman saja. Sepeda ini rigid, depan belakang tidak pakai shock arbsorber, dan ukuran roda yang 700c sangat membantu meredam vibrasi jalan raya, jadi lengan dan bahu tidak terlalu terguncang. Gear 2 x 8, dan setelah beberapa waktu memakainya mulai terpikir untuk mengupgrade ke 3 x 9. Tapi masih harus memastikan bahwa upgrade ini memang kebutuhan, bukan semata keinginan. Ini yang susah.
Sepeda ini sekarang merupakan SUV saya, kalau kondisi tubuh memungkinkan (kalau kena DB, atau geraham bungsu senut-senut, saya kembali ke pangkuan Suzuki Swift, disopiri istri). Ke mana pun saya pergi di seputaran Denpasar, saya bawa dia. Menjelang Galungan kemarin misalnya, mesti beli tiga biji tedung baru untuk pelinggih. Beli di pasar Sanglah, yang jual bingung waktu saya bilang saya mau bawa pakai sepeda. Tapi begitu lihat si Ute, dan dengan sedikit tali temali, dia jadi maklum. Rute terjauh, dari Panjer pergi ke bank di Teuku Umar, lalu ke notaris di Dalung, lanjut belanja di Buluh Indah, lalu dengan tas penuh belanjaan, mampir ke Gatsu Timur, lalu lanjut ke konsulat Thai di Renon, baru pulang lagi ke Panjer. Jarak tempuh sekitar 30 km (data GPS), dan semua urusan selesai dalam waktu kurang dari 4 jam.
Jadi besok-besok (mulai bulan depan sih, sore ini saya melaut dulu), kalau teman-teman melihat ada orang naik sepeda panjang dengan tas warna oranye ngejreng, berpanas-panas di keriuhan lalu lintas kota Denpasar, tolong melambai, ngedim, klakson, atau lebih baik lagi tawari sebotol Pocari Sweat dingin, karena itu pasti saya (karena setahu saya belum ada Kona Ute 2009 lain di Bali). Dan karena saya sampai saat ini tidak punya pekerjaan di Bali, jadi saya tidak bisa ber bike to work, sebisanya ber bike to anywhere I can. Mudah-mudahan Ute oranye saya bisa membuat bumi menjadi lebih hijau, he..he..
cool,,
mntebb, kapan harga ni sepeda turun..
hikk
[Reply]
iya kayaknya gak ada di indonesia
[Reply]
om kabel shifternya di ganti pakai apa tuch kan panjang banget, kl kabel shifter original sampai gak tuch om
[Reply]
wahhh… bagus sekali sepedahnya Om… jadi ngiler pengen juga.
btw, berapa ya harga sepedanya dan tasnya?.
terima kasih.
[Reply]